Mengenal Kelompok Bina Keluarga Balita

Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan salah satu bentuk kelompok kegiatan yang menjadi salah satu program unggulan BKKBN. Sebelum mengupas lebih dalam, ada baiknya kita awali dengan pengertian BKB itu sendiri. Apa definisi kelompok BKB?

Bina keluarga balita adalah kegiatan yang khusus mengelola tentang  pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur, yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada ditingkat RW. (Pedoman Pembinaan Kelompok Bina Keluarga Balita Tahun 2006)

Definisi lainnya: Bina Keluarga Balita (BKB) adalah upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran ibu serta anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balitanya melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial, emosional serta moral yang berlangsung dalam proses interaksi antara ibu/anggota keluarga lainnya dengan anak balita.

Dari definisi diatas bisa kita simpulkan bahwa pada prinsipnya kelompok BKB sangat bermanfaat, diantara manfaat dari kelompok BKB bagi otang tua maupun bagi anak yang bisa petik adalah:

Bagi orang tua

  • Agar dapat mengurus dan merawat anak serta pandai membagi waktu dan mengasuh anak
  • Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak yang benar
  • Untuk meningkatkan keterampilan dalam hal mengasuh dan mendidik anak balita
  • Supaya lebih terarah dalam cara pembinaan anak
  • Agar mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang terhadap anak sehingga tercipta ikatan batin yang kuat antara otang tua dan anak.
  • Agar mampu membentuk anak yang berkualitas.

Bagi anak, diharapkan:

  • Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Berkepribadian luhur
  • Tumbuh dan berkembang secara optimal
  • Cerdas, trampil, dan sehat
  • Memiliki dasar kepribadian yang kuat guna perkembangan selanjutnya.

Bagaimana proses pembentukan BKB?

Untuk bisa membentuk kelompok BKB penulis akui memang bukan hal yang dapat dianggap pekerjaan mudah. Pasalnya pembentukan kelompok BKB merupakan upaya lintas sektor, disini perlu adanya persamaan kesepahaman mengenai bentuk dan konsep BKB, baik oleh pemerintah, dan masyarakat. Kegiatan ini tidak akan dapat berjalan apabila tanpa ada dukungan dari berbagai pihak terkait seperti kepala desa, puskesmas.

Namun apabila kita meyakini dan terus berusaha dan belajar mudah-mudahan hal ini bisa dilaksanakan.Seperti yang tertera dalam beberapa langkah dibawah ini:

1. Pendataan

Dilakukan pendataan sasaran dan potensi wilayah antara lain PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, keluarga-keluarga yang mempunyai potensi khusus dan kader yang mau dan mampu untuk memimpin Bina Keluarga Balita.
Selanjutnya hasil analisa dipilah-pilah, keluarga sesuai dengan sasaran dari Bina Keluarga Balita sehingga dapat menentukan:

  • Prioritas penggarapan Bina Keluarga yang diperlukan
  • Prioritas wilayah kegiatan tersebut dengan memperhatikan jumlah anggota 20-40 keluarga dan potensi keluarga seperti: calon kader aktif, dukungan pemerintah,dll

2. Penggalangan kesepakatan

Berdasarkan data tersebut petugas lapangan keluarga berencana bersama dengan kelompok kerja teknis melakukan penggalangan kesepakatan dengan cara:

a.    Konsultasi dengan lurah bertujuan:

  • Melaporkan hasil pendataan
  • Rencana pembentukan kelompok BKB
  • Mendapat dukungan dari lurah

b.    Kunjungan tokoh nonformal, antara lain kunjungan kepada tokoh masyarakat dan calon pengurus  kelompok BKB untuk mendapat dukungan kesediaannya.

c.    Kunjungan sasaran bertujuan untuk:

  •  Memperoleh data sasaran calon anggota kelompok BKB yang akan dibentuk.
  •  Menyampaikan infomasi awal tentang latar belakang dan tujuan pembantukan kelompok BKB.

d.    Saresehan keluarga

Calon pengurus dan anggota perlu mendapat informasi yang lengkap tentang program yang akan dilaksanakan dengan materi:

1.    Maksud dan tujuan pembentukan kelompok BKB
2.    Perlunya dibentuk kelompok BKB
3.    Inventarisasi calon kader
4.    Penetapan kader
5.    Penetapan sarana kegiatan
6.    Penetapan lokasi kegiatan

3. Pengukuhan

Legitimasi keberadaannya agar diketahui seluruh warga dan mendapat pengakuan, maka hendaknya kelompok BKB tersebut dikukuhkan dengan SK camat atau lurah dalam kegiatan rapat koordinasi.

4. Pembekalan

Pengurus atau pengelola kelompok BKB yang telah dikukuhkan diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan BKB melalui pelatihan atau orientasi atau magang sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi setempat.

Selamat mencoba dan berkarya!

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s